Kali ini ulasan masih tentang air terjun. Air terjun lagi, ya, memang yang mudah dan dekat dengan tempat tinggal. Di Mojokerto, khususnya di kawasan Pacet memang ada beberapa air terjun yang sangat layak untuk dikunjungi. Ada air terjun Grenjengan dan tetangganya Coban Canggu, Coban Watu Ondo dan tetangganya juga Coban Watu Lumpang. Pada kesempatan ini kita akan bergeser di Kecamatan sebelahnya, Trawas. Trawas juga mempunyai wisata alam berupa air terjun, air terjun Dlundung. Namun, di tulisan kali ini juga ada air terjun yang tidak terlalu jauh dari air terjun Dlundung. Untuk air terjun yang satu ini masuk di wilayah Pacet, air terjun Watu Gedhek.
Selasa, 13 Maret 2018, bukan hari libur sebenarnya tapi mashuk shift malam hari pertama. Jadi, ada cukup waktu untuk sedikit berjalan-jalan ria. Jika sebelumnya sudah di wilayah Pacet, ganti bergeser ke wilayah Trawas. Pagi hari sekitar 06.30 WIB berangkat dari kos menuju lokasi. Kurang lebih 07.15 WIB sampai di lokasi dan seperti biasa menjadi pengunjung pertama di hari tersebut.
Air Terjun Dlundung
Air terjun ini berada di Trawas, Kabupaten Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini cukup mudah sudah banyak penunjuk arah ke lokasi. Dari loket masih dilanjut perjalanan dengan kendaraan bermotor berjarak beberapa ratus meter hingga tempat parkir. Sampai di lokasi masih sepi, belum tampak kendaraan pengunjung terparkir. Tidak perlu berlama-lama langsung saja menuju ke air terjun yang tidak jauh dari situ. Akses menuju lokasi dari luar sudah baik jalan beraspal, begitu juga dari tempat parkir menuju air terjun sudah dipaving.
Air terjunnya cukup deras, jarak beberapa puluh meter pun terasa seperti gerimis, cukup membuat kamera dan lensa basah. Untuk aliran sungainya juga bagus banyak bebatuan bertingkat.
Air Terjun Watu Gedhek
Setelah dari air terjun Dlundung di Trawas, berikutnya adalah air terjun Watu Gedhek. Air terjun ini berada di Desa Nogosari Kecamatan Pacet. Saat sampai di desa Nogosari dapat menanyakan lokasi air terjun. Jika malu bertanya, ikuti saja petunjuk di gmap yang ada di gadget.
Dari lokasi parkir ke air terjun jaraknya cukup untuk melemaskan kaki melalui hutan pinus. Dalam perjalanan, ada tulisan-tulisan 'aneh' yang ditempel di pepohonan. Bagaimana tidak aneh kalau di hutan ditempeli tulisan "Kapan Rabi?", "Kapan Ketemu Jodoh?", dsb. Apa tidak 'baper' itu orang-orang yang sedang punya cerita dengan tulisan-tulisan tersebut? (tidak bermaksud curhat).
Setelah berjalan beberapa waktu, lokasi air terjun sedikit turun ke lembah. Selain air terjun utama ada juga air terjun Curah Watu dengan air terjun kecil mirip air mancur menyebar dari ketinggian yang cukup rendah.
Bonus
Selasa, 13 Maret 2018, bukan hari libur sebenarnya tapi mashuk shift malam hari pertama. Jadi, ada cukup waktu untuk sedikit berjalan-jalan ria. Jika sebelumnya sudah di wilayah Pacet, ganti bergeser ke wilayah Trawas. Pagi hari sekitar 06.30 WIB berangkat dari kos menuju lokasi. Kurang lebih 07.15 WIB sampai di lokasi dan seperti biasa menjadi pengunjung pertama di hari tersebut.
Air Terjun Dlundung
Air terjun ini berada di Trawas, Kabupaten Mojokerto. Untuk mencapai lokasi ini cukup mudah sudah banyak penunjuk arah ke lokasi. Dari loket masih dilanjut perjalanan dengan kendaraan bermotor berjarak beberapa ratus meter hingga tempat parkir. Sampai di lokasi masih sepi, belum tampak kendaraan pengunjung terparkir. Tidak perlu berlama-lama langsung saja menuju ke air terjun yang tidak jauh dari situ. Akses menuju lokasi dari luar sudah baik jalan beraspal, begitu juga dari tempat parkir menuju air terjun sudah dipaving.
Air terjunnya cukup deras, jarak beberapa puluh meter pun terasa seperti gerimis, cukup membuat kamera dan lensa basah. Untuk aliran sungainya juga bagus banyak bebatuan bertingkat.
![]() |
Gambar 1 Air terjun Dlundung. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 2 Bebatuan. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (105 mm), f/10, 15 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 3 Air terjun Dlundung (2). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 4 The stone. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (105 mm), f/5.6, 3 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 5 Air terjun Dlundung (3). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (62 mm), f/5.6, 3 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 6 Air terjun Dlundung (4). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 15 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 7 Air terjun Dlundung (5). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 8 Air terjun Dlundung (6). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 9 Air terjun Dlundung (7). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
Air Terjun Watu Gedhek
Setelah dari air terjun Dlundung di Trawas, berikutnya adalah air terjun Watu Gedhek. Air terjun ini berada di Desa Nogosari Kecamatan Pacet. Saat sampai di desa Nogosari dapat menanyakan lokasi air terjun. Jika malu bertanya, ikuti saja petunjuk di gmap yang ada di gadget.
Dari lokasi parkir ke air terjun jaraknya cukup untuk melemaskan kaki melalui hutan pinus. Dalam perjalanan, ada tulisan-tulisan 'aneh' yang ditempel di pepohonan. Bagaimana tidak aneh kalau di hutan ditempeli tulisan "Kapan Rabi?", "Kapan Ketemu Jodoh?", dsb. Apa tidak 'baper' itu orang-orang yang sedang punya cerita dengan tulisan-tulisan tersebut? (tidak bermaksud curhat).
Setelah berjalan beberapa waktu, lokasi air terjun sedikit turun ke lembah. Selain air terjun utama ada juga air terjun Curah Watu dengan air terjun kecil mirip air mancur menyebar dari ketinggian yang cukup rendah.
![]() |
Gambar 10 Air terjun Watu Gedhek. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/16, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 11 Air terjun Watu Gedhek (2). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/10, 5 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 12 Air terjun Watu Gedhek (3). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/16, 5 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 13 Air terjun Watu Gedhek (4). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/16, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 14 Air terjun Watu Gedhek (5). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/16, 10 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 15 Air terjun Watu Gedhek (6). Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/16, 5 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 16 Curah Watu. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (18 mm), f/8, 3 s, ISO 100, ND 1.8 64x, edit with Adobe Lightroom |
Bonus
![]() |
Gambar 17 Kapan rabi?. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (105 mm), f/5.6, 1/60 s, ISO 400, edit with Adobe Lightroom |
![]() |
Gambar 18 Kapan ketemu jodoh?. Gear: Nikon D5200, 18-105mm lens (105 mm), f/5.6, 1/60 s, ISO 400, edit with Adobe Lightroom |
Related Post:
Cerita-cerita
- Fear of Missing Out (FOMO)
- Coban Rondo, Pujon, Malang
- Air Terjun Watu Ondo dan Air Terjun Watu Lumpang, Pacet, Mojokerto
- Cerita dari Air Terjun Grenjengan dan Air Terjun Canggu
- Cerita Akhir Tahun, Pantai Payangan
- Jalan-jalan Tipis ke Surabaya Utara
- Short Trip to Solo the Spirit of Java
- A Tribute to Nelson Mandela
- WPAP - Dahlan Iskan
- Posting Tidak Penting Alias Iseng Saja
- Vektor dan Bitmap
- Peringkat Indonesia di FIFA
- Tukar Link
- Singkatan, Istilah dan Simbol Umum di Dunia Maya
- Sedikit Info Muse
- Kisah Perjalanan dan Perkembangan Helm
- Sedikit Info tentang Avenged Sevenfold
No comments:
Post a Comment